“Bahaya Imunisasi?” Telaah Tahap ke-2

“Bahaya Imunisasi?” Telaah Tahap ke-2

oleh Julian Sunan pada 13 Mei 2012 pukul 2:26 ·

Tidak perlu seserius itu membacanya. Saya suka lelucon, itulah kenapa saya kembali menulis tentang “Bahaya Imunisasi?”.
Artikel ini bertujuan untuk mengajak pembaca bersikap kritis dalam memahami salah satu artikel penolakan terhadap program imunisasi berjudul “Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya Vaksin” yang dimuat di http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/ . Telaah sederhana diharapkan dapat dilakukan oleh pembaca ketika membaca paparan data, pernyataan, maupun hipotesis yang diajukan dalam artikel penolakan imunisasi tersebut, maupun artikel-artikel yang lain.

1. Rubella di .. Jerman???

“Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.”

Ya, memang ada penelitian yang memiliki judul penelitian yang sama plek dengan yang tersebut di atas, dipublikasikan di JAMA pada tahun 1981. Namun benarkah penelitian Walter A. Orenstein tersebut berisi bahwa para dokter dan perawat menolak imunisasi rubella seperti pernyataan paragraf di atas? mari kita baca sekedar abstrak asli dari penelitian tersebut, yang saya ambil dari http://jama.ama-assn.org/content/245/7/711.short :

Walter A. Orenstein, MD; Peter N. R. Heseltine, MD; Susan J. LeGagnoux, RN, MPH; Bernard Portnoy, MD. Rubella Vaccine and Susceptible Hospital Employees : Poor Physician Participation. JAMA 1981;245:711-713
“A serosurvey of 2,456 high-risk employees of the Los Angeles County-University of Southern California Medical Center showed that 345 (14%) were susceptible to rubella. Of 197 seronegative personnel followed up for participation in a vaccination program, 105 (53.3%) were vaccinated. However, only one of the 11 known susceptible obstetrician-gynecologists was vaccinated. Thirty-eight seronegative employees who were vaccinated with RA 27/3 rubella vaccine were queried four to six weeks after vaccination and compared with 32 unvaccinated seropositive control subjects. Although the reaction rate was 50% among vaccinees and 3% among control subjects, each vaccinee lost only an average of 0.2 workdays compared with 0.1 workdays for control subjects. The high rate of susceptibility to rubella among hospital employees supports the need for screening. Although vaccine reactions are common, they are generally mild. Means must be found to ensure greater employee acceptance of vaccine.

Tentu saja, penelitian aslinya ternyata tidak menyimpulkan sedemikian. Penelitian Orenstein et al. tersebut memaparkan bahwa baru sedikit personel kesehatan di RS. University of Southern California, Los Angeles (ya, Los Angeles kayaknya sih ada di negara bagian California, Amerika, tidak di Jerman) yang melakukan vaksinasi rubella. Sejak Januari 1980 sebenarnya institusi kesehatan di California sudah menyarankan tenaga medis untuk melakukan vaksinasi rubella. Tahun 1982 terjadi outbreak rubella di Los Angeles, ternyata banyak tenaga medis tersebut turut tertular, laporan epidemiologis CDC yang dirilis 28 Januari 1983 dapat dibaca di Epidemiologic Notes and Reports Rubella in Hospitals – California, MMWR, January 28, 1983 / 32(3);37-9 (http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001229.htm). Tenaga medis, selain mereka sangat rentan tertular dari pasien-pasien rubella yang mereka rawat, juga berpotensi untuk menularkannya kemudian kepada pasien non-rubella yang juga mereka rawat. Itulah susahnya jadi tenaga medis. Tahukah anda, bahwa saya juga belum melakukan vaksinasi rubella? ya, vaksinasi rubella di Indonesia memang belum merupakan program imunisasi wajib bagi tenaga medis. Di Amerika, Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan Hospital Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC) telah mengeluarkan rekomendasi nasional imunisasi untuk tenaga kesehatan, rekomendasi yang dirangkum oleh CDC tersebut, dirilis 26 Desember 1997, dapat dibaca di Immunization of Health-Care Workers: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and the Hospital Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC), MMWR, December 26, 1997 / 46(RR-18);1-42 (http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00050577.htm), untuk melindungi tenaga medis, sekaligus melindungi pasien.

2. Penyalahgunaan data VAERS

“Di Amerika pada tahun 1991 – 1994 sebanyak 38.787 masalah kesehatan dilaporkan kepada Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA. Dari jumlah ini 45% terjadi pada hari vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan 93% dalam waktu 2 mgg setelah vaksinasi. Kematian biasanya terjadi di kalangan anak anak usia 1-3 bulan”

Hmm, sepertinya ada yang menyalah gunakan data-data pada laporan VAERS untuk menghasut massa. Anda akan sering menemukan data-data (entah yang dicantum itu data beneran atau karangan) dari VAERS digunakan oleh para pegiat anti-imunisasi untuk membodohi orang awam, mirip dengan paragraf di atas.

Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) adalah program surveilans keamanan vaksin nasional yang disponsori oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Food and Drug Administration (FDA). VAERS merupakan program pengawasan keamanan pasca-pemasaran yang mengumpulkan informasi tentang kejadian penyerta (yang mungkin bisa merupakan efek samping) yang terjadi setelah pemberian vaksin berlisensi yang digunakan di Amerika Serikat. Laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) istilahnya kalau di Indonesia, ya, kita juga pemantauan imunisasi semacam VAERS. Penjelasan di bawah ini dapat anda temukan dari situs VAERS sendiri, silakan baca di http://vaers.hhs.gov/data/index

Ketika mengevaluasi data dari VAERS, penting untuk dicatat bahwa untuk setiap peristiwa yang dilaporkan, tidak ada hubungan sebab-akibat yang telah dibentuk. VAERS mengumpulkan data pada setiap vaksinasi berikut kejadian yang menyertainya, baik itu kejadian yang kebetulan terjadi atau benar-benar disebabkan oleh vaksin. Laporan kejadian buruk kepada VAERS bukanlah merupakan dokumentasi bahwa vaksin menyebabkan kejadian tersebut.Data VAERS berisi baik kejadian ko-insiden saat/setelah vaksinasi, maupun kejadian yang benar-benar disebabkan oleh vaksinasi. Lebih dari 10 juta vaksin per tahun diberikan kepada anak-anak berusia kurang dari 1 tahun, biasanya antara usia 2 dan 6 bulan. Pada usia tersebut, bayi memang berisiko/rentan mengalami kejadian/kondisi medis tertentu, diantaranya demam tinggi, kejang, dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Beberapa bayi mengalami kejadian medis tersebut tak lama setelah vaksinasi, secara kebetulan. Kejadian ko-insiden ini membuat sulit untuk mengetahui apakah efek samping tertentu merupakan akibat kondisi medis atau akibat dari vaksinasi. Oleh karena itu, penyedia layanan vaksinasi dianjurkan untuk melaporkan semua kejadian buruk setelah vaksinasi, baik mereka percaya vaksinasi adalah penyebabnya ataupun tidak.

FDA juga mengeluarkan statement ini untuk menentang penyalahgunaan data VAERS oleh komunitas anti-imunisasi. Apakah semua kejadian dilaporkan kepada VAERS disebabkan oleh vaksinasi? Tidak. Karena VAERS menerima semua laporan kejadian penyerta setelah vaksinasi, tidak semua kejadian yang dilaporkan kepada VAERS disebabkan oleh vaksin. Beberapa kejadian mungkin terjadi secara kebetulan setelah pemberian vaksin, sementara yang lain mungkin memang disebabkan oleh vaksin. Penelitianlah yang membantu menentukan hubungan antara imunisasi dan kejadian penyerta tersebut. Sebuah kejadian yang buruk setelah pemberian vaksin bukanlah bukti yang meyakinkan bahwa peristiwa itu disebabkan oleh vaksin. Berbagai faktor (misalnya, riwayat medis penerima vaksin, obat-obat lain yang diberikan berdekatan waktu vaksinasi) harus diperiksa untuk menentukan apakah mereka bisa menyebabkan kejadian penyerta. Banyak kejadian penyerta yang dilaporkan kepada VAERS tidak disebabkan oleh vaksin. (dapat anda baca sendiri di http://www.fda.gov/BiologicsBloodVaccines/SafetyAvailability/ReportaProblem/VaccineAdverseEvents/QuestionsabouttheVaccineAdverseEventReportingSystemVAERS/default.htm)

3. Bordetella Pertussis – “Whooping Cough”

“Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal”

Pertusis di Kansas
Paragraf di atas tidak memuat rujukan referensi yang sahih darimana laporan tersebut berasal. Tapi tetap saja harus kita telusuri. Mari kita runut sejarahnya, saya mengambil rujukan dari surveilans CDC untuk kasus pertusis dari tahun 1986-1988 di Amerika Serikat, yang dapat anda baca di Current Trends Pertussis Surveillance — United States, 1986-1988. MMWR. February 02, 1990 / 39(4);57-58,63-66 (http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001550.htm). Sepanjang tahun 1986 hingga 1988 di Amerika terjadi kejadian pertusis yang cukup banyak, 5 negara bagian dengan angka kesakitan terbesar terjadi di Idaho (17.1 kasus per 100,000 penduduk), Kansas (17.0 per 100,000), Delaware (12.5 per 100,000), Hawaii (10.7 per 100,000), dan New Hampshire (6.6 per 100,000). Wabah yang terjadi di Kansas tahun 1986 memang menyumbang jumlah kasus terbanyak, sebanyak 1030 (bukan 1300) kasus pertusis dilaporkan selama tahun tersebut. Selama tahun 1986 hingga 1988 tersebut kejadian pertusis di Amerika Serikat tercatat sebanyak 10,468 kasus (4195 pada tahun 1986, 2823 pada tahun 1987, dan 3450 pada tahun 1988). Berlawanan dengan klaim data pegiat anti-vaksin di atas, berdasarkan data yang dkumpulkan CDC, sebanyak 3793 pasien anak berusia 3 bulan sampai 4 tahun, 63% tidak mendapat imunisasi serial pertusis yang cukup, dan 34% bahkan belum diimunisasi sama sekali. Sudah jelas bukan berapa persen anak yang mana yang kena pertusis, 90% itu data karangan siapa? Laporan kejadian wabah tersebut justru mendukung Amerika Serikat makin giat dengan program imunisasi pertussis di kemudian hari.

Pertussis di Nova Scotia
saya yakin kebanyakan (atau malah semua?) pencopy paste di blog anti-vaksin sebelum membaca ini tidak tahu dari mana pernyataan “kegagalan” imunisasi di Nova Scotia berasal. Ketahuilah, pegiat anti imunisasi pertama yang memiliki ide mengemukakan hal tersebut mencuplik sebagian kalimat dari penelitian ini untuk menipu pembaca:
Halperin SA, Bortolussi R, MacLean D, Chisholm N. Persistence of pertussis in an immunized population: results of the Nova Scotia Enhanced Pertussis Surveillance Program. J Pediatr. 1989 Nov;115(5 Pt 1):686-93.
Penelitian Scott Halperin tersebut sebenarnya merupakan hasil dari metode program surveilans (pelacakan dan pengawasan) yang diperbarui terhadap kasus pertusis di Nova Scotia, dengan metode kombinasi klinis dan laboratoris tersebut dr. Halperin berhasil menemukan kasus pertusis secara lebih banyak dan detil, termasuk kasus pertussis yang terjadi pada individu yang telah menjalani vaksinasi. Sayangnya, kalimat terakhir di abstrak publikasinya yang mana tercantum kalimat “…We conclude that pertussis remains a significant health problem in Nova Scotia, despite nearly universal vaccination” kemudian dijadikan bahan pembodohan publik oleh pegiat anti-imunisasi.

Namun mereka tidak pernah mengungkapkan fakta penelitian dr. Halperin selanjutnya yang telah diajarkan kepada seluruh mahasiswa kedokteran di dunia (yang memang mau mempelajari ilmu kedokteran beneran, bukan yang bayar mahal masuk FK cuma buat cari gelar dokter). Dalam penelitian berjudul :
Bortolussi R, Miller B, Ledwith M, Halperin S. Clinical course of pertussis in immunized children. Pediatr Infect Dis J. 1995 Oct;14(10):870-4.
tersebutlah bahwasanya: “Despite adequate immunization some children develop pertussis. The clinical course in these patients is milder than in unimmunized subjects”. Meskipun sudah diimunisasi, seorang anak dapat terkena pertussis, namun dengan gejala yang jauh lebih ringan daripada anak yang tidak diimunisasi. Tahukah anda seperti apa pertussis yang berat & parah? coba baca sendiri Bordetella Pertussis di wiki, atau http://www.cdc.gov/pertussis/clinical/complications.html. Dua penelitian di Nova Scotia oleh Prof. Scott Halperin tersebut justru menjadi landasan penting rekomendasi imunisasi pertusis pada anak.

4. Perang Dunia II melawan Difteri & Eleanora McBean

“Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus”

Kalimat di atas merupakan terjemahan dari “At the beginning of the Second World War immunization was made compulsory in Germany and the diphtheria rate soared up to 150,000 cases (1939) while in unvaccinated Norway there were only 50 cases.” yang ditulis Eleanor McBean dalam bukunya The Poisoned Needle: Suppressed Facts About Vaccination, tahun 1957. Pembaca bertanya, apa saya sudah baca buku itu? jawab saya: sudah, baru selesai sebagian dan menemukan kalimat di atas, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Dalam bukunya ia tidak menyebutkan darimana data itu berasal, menghitung sendirikah, dari curhatan Adolf Hitler sebelum menginvasi Polandia (Fall Weiß), atau cuma copy paste blog anti-vaksin Jerman milik kakek Gerhard Buchwald (kalau Buchwald sempat bikin blog hehe). Anda dapat menikmati salah satu kitab suci pujaan umat anti-imunisasi Amerika tersebut dalam situs fanatik anti imunisasi http://www.whale.to tepatnya di http://www.whale.to/a/mcbean.html#IMMUNIZATION INCREASED DIPHTHERIA IN SOME COUNTRIES . Silakan baca, sumpah isinya lucu banget. Ya, Eleanor McBean adalah aktivis anti-vaksin ternama dengan banyak buku seperti The Poisoned Needle (1957), Answers For The Worried Smoker (1962), Swine Flu Expose (1977), Vaccination, The Silent Killer (1977), Vaccination Condemned (1981). Anda dapat membaca profil tentang almarhum nenek Eleanor McBean ini di wikipedia.

5. Raja Teori Konspiratif Alan Cantwell

“Tahun 1989-1991 vaksin campak ”high titre” buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb diuji coba pada 1500 anak-anak miskin keturunan orang hitam dan latin, di kota Los Angeles, Meksiko, Haiti dan Afrika. Vaksin tersebut sangat direkomendasikan oleh WHO. Program dihentikan setelah di dapati banyak anak-anak meninggal dunia dalam jumlah yang besar”
“Vaksin campak menyebabkan penindasan terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai 3 tahun. Akibatnya anak-anak yang diberi vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan meninggal dunia dalam jumlah besar dari penyakit-penyakit lainnya WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasar di tahun 1992″

Pembaca dapat menemukan petikan asli dari paragraf di atas pada (anda semua pasti bisa menerka) http://www.whale.to, situs penentang pengobatan medis terpopuler. Petikan tersebut merupakan pernyataan dari Alan Cantwell Jr, pensiunan ahli kulit yang berevolusi menjadi pencetus teori konspiratif tentang HIV-AIDS dan penentang imunisasi terfavorit (bagi kalangan anti vaksin tentu saja). Silakan baca profilnya Alan Cantwell di wiki. Seperti yang biasa penentang imunisasi lakukan, Cantwell dalam salah satu buku teori konspiratifnya yang berjudul “Are Vaccines Causing More Disease Than They Are Curing?” (1999) memutar balikkan berita yang ia baca di L.A. Times 20 Juni 1996 (ya, cuma berita di koran) yang berjudul Measles, Government and Trust (dapat anda cari di arsip L.A Times, atau klik di http://articles.latimes.com/1996-06-20/local/me-16843_1_los-angeles), Cantwell berteori konspiratif dengan menuduh pemerintah Amerika Serikat sengaja menggunakan anak-anak sebagai bahan percobaan

Berita di LA Times 20 Juni 1996 tersebut sebenarnya memberitakan tentang kesalahan form inform consent CDC dalam penelitian vaksin campak titer tinggi strain Edmonston-Zagreb (EZ) di Los Angeles pada tahun 1989-1991. Penelitian CDC tersebut bertujuan untuk melihat perbedaan penggunaan vaksin campak titer tinggi strain Edmonston-Zagreb dengan strain Moraten. Namun penelitian tersebut tidak sempat terselesaikan karena WHO memutuskan menarik vaksin titer tinggi strain Edmonston-Zagreb dari peredaran, karena pada penelitian serupa yang dilakukan bersamaan di Senegal, Guinea Bissau dan Haiti muncul pertanyaan kemungkinan hubungan antara dosis tinggi vaksin campak strain EZ dengan peningkatan kematian pada bayi perempuan.

Cantwell memanipulasi berita tersebut dengan mengatakan bahwa vaksin campak Edsmonton Zagreb telah banyak mengakibatkan kematian pada bayi di Meksiko, Haiti dan Afrika, bahwa bayi perempuan pada penelitian di Afrika sengaja diberi 2x dosis bayi laki-laki sehingga banyak yang mati, dan bahwa vaksin campak menekan sistem imun bayi selama 6 bulan hingga 3 tahun yang berakibat bayi dengan imunitas yang tertekan tersebut banyak yang mati, sehingga vaksin campak Edmonston Zagreb ditarik WHO kemudian, namun pemerintah Amerika Serikat tetap menggunakannya untuk percobaan di Los Angeles pada anak-anak miskin keturunan afrika dan latin.

Alan Cantwell Jr. lahir di Bronx, New York City, pada tanggal 4 Januari 1934. Ayahnya adalah seorang ahli bedah ortopedi dan ibunya seorang perawat. Dia kuliah di Cornell University, lulus pada tahun 1955, kemudian mengikuti pendidikan kedokteran di New York Medical College. Setelah lulus pada 1959, ia magang di Mercy Hospital di San Diego, California. Tertarik dengan AIDS, Cantwell menaruh minat besar untuk menentukan apakah ada bukti ilmiah untuk mendukung klaim Strecker tentang HIV-AIDS (Robert Strecker, seorang internis Los Angeles yang mengklaim bahwa epidemi AIDS adalah buatan manusia, satu lagi dokter penggemar teori konspirasi). Ia sangat yakin terhadap klaim Strecker bahwa AIDS adalah penyakit buatan manusia. Penelitian-penelitiannya sendiri kemudian membawa Cantwell ke “daerah gelap” ilmu pengetahuan, seperti senjata biologis, eksperimen radiasi manusia oleh pemerintah AS, isu genosida, dan berbagai aspek teori konspirasi lainnya. Silakan baca profilnya yang cukup netral di http://socialarchive.iath.virginia.edu/xtf/view?docId=cantwell-alan-1934–cr.xml atau http://www.oac.cdlib.org/findaid/ark:/13030/kt2s2033zz/

Karya wahamnya yang membahana semacam “Bacteria: The Ultimate Cause of Cancer?” (2003) ; “Bacteria, Cancer & the Origin of Life” (2003; ia mengajukan teori bahwa kanker disebabkan oleh bakteri, yang dikombinasi dengan kekuatan “energi alami yang tak terlihat” – opo meneh iki), “Queer Blood: The Secret AIDS Genocide Plot” (1997), “The Secret Origin of AIDS and HIV” (2000) (HIV-AIDS merupakan buatan manusia untuk memusnahkan gay dan ras afrika!), mungkin membuat muntah banyak penerbit buku, sehingga ia membuat penerbit buku sendiri (Aries Rising) atau menyusupkan artikelnya dalam majalah-majalah konspirasi dan pengobatan alternatif (New Dawn, Paranoia Magazine, Nexus, The New African). Anda tidak perlu berlangganan majalah-majalah tersebut jika ingin ikut muntah, sudah disediakan secara lengkap pada profilnya yang dipuja di http://www.whale.to (http://www.whale.to/c/cantwell_alan.html)

Pengarang buku anti imunisasi populer di Indonesia ibu Ummu Salamah ternyata juga latah mencopy paste teori konspirasi Alan Cantwell tentang vaksin campak di atas. Yang perlu anda catat adalah bahwa Alan Cantwell adalah seorang gay, yang bertemu pasangan hidupnya, Frank A. Sinatra di tahun 1974. Pada tanggal 19 Oktober 2008, keduanya ‘menikah’ di Hollywood (ya, maka jangan heran bukunya banyak mengunggah teori konspiratif penindasan terhadap kaum gay). Alan Cantwell juga pemuja teori Orgone, energi ‘gaib’ yang ditemukan di alam dan di seputar orgasme (hah!?), temuan Wilhelm Reich, psikoanalis yahudi nyentrik & aneh yang terusir dari Jerman (saking ngefansnya Cantwell sampe membuat buku berjudul “Dr. Wilhelm Reich: Scientific Genius – or Medical Madman?”). Mungkinkah umat muslim sekarang menganggap sahih “fatwa” seorang gay penghasil orgone dari orgasmenya?

Ada kutipan pernyataan lagi dari komunitas anti imunisasi:
“Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar”

Mari pembaca ikut menebak, darimana teori konspirasi di atas berasal? ciri khas: HIV, AIDS, homoseksual, Afrika – ya, betul sekali, ini jelas pernyataan konspiratif Alan Cantwell, dari bukunya yang juga masih itu-itu saja.

6. Nigeria Memboikot Imunisasi Polio

“Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin”

Berita mengenai penolakan vaksinasi polio di Nigeria ini benar adanya, anda dapat membaca berita-berita tentangnya di situs-situs berita internasional ternama sekitar tahun 2002-2004. Ya, ini berita sedih, inilah contoh nyata bagaimana kepercayaan agama dan isu sentimen terhadap barat kemudian terkompori oleh teori-teori konspiratif kaum penolak-imunisasi.

Nigeria adalah salah satu negara dengan jumlah penderita polio yang sangat banyak, WHO melaporkan bahwa lebih dari 40 persen dari 677 kasus baru polio yang tercatat di seluruh dunia pada tahun 2002 berada di Nigeria. Jumlah kasus polio di Nigeria memang sudah besar,namun bukan karena imunisasi polio. Program imunisasi polio yang kemudian mulai digalakkan di Nigeria sempat terganggu ketika Oktober 2003 para pemimpin politik negara bagian Kano, Zamfara, Bauchi dan Niger di Nigeria utara menyerukan kepada orang tua tidak membiarkan anak-anak mereka untuk diimunisasi, memperingatkan mereka bahwa vaksin tersebut dapat terkontaminasi. Seruan untuk melawan vaksinasi oleh para pemuka agama di Nigeria utara menemukan wadahnya ketika mereka diterima oleh ketua Supreme Council for Sharia in Nigeria (SCSN), Dr. Datti Ahmed. Ia mengatakan bahwa ada kemungkinan kuat bahwa vaksin telah terkontaminasi dengan agen anti-kesuburan dan seharusnya tidak diberikan pada anak sampai penyelidikan penuh selesai dilakukan (Reps And the Polio Vaccine Controversy, Daily Trust Newspaper, Nigeria at All Africa.com, 30 Desember 2003). Dr. Datti Ahmed juga menyatakan bahwa vaksin polio “..rusak dan dinodai oleh pelaku kejahatan dari Amerika dan sekutu Barat mereka” serta “Kami percaya bahwa Hitler-modern secara sengaja mencemari vaksin polio oral dengan obat anti-kesuburan dan … virus yang diketahui menyebabkan HIV dan AIDS” (Vaccine Boycott Spreads Polio, News24.com, 11 Februari 2004). Lagi-lagi konspirasi vaksin-HIV-AIDS-Afrika, coba tebak siapa tokoh pencetus teori ini? ya, Alan Cantwell. Negara bagian Bauchi, Niger dan Zamfara hanya memboikot satu putaran Hari Imunisasi Nasional, sementara negara bagian Kano terus memboikot selama hampir setahun.

Kebuntuan ini akhirnya diselesaikan melalui dialog, dengan para pemimpin keagamaan memainkan peran signifikan dalam prosesnya. Pemerintah federal Nigeria mengundang para pemimpin politik dan agama mengikuti serangkaian pertemuan untuk mencari solusi untuk kebuntuan yang terjadi. Pertemuan ini menghasilkan konsensus pada bulan Februari 2004 dengan menerima permintaan SCSN untuk menguji vaksin secara mandiri di negara muslim. Pada bulan Februari 2004, pemerintah Nigeria mengirimkan wakil negara dan agama ke Afrika Selatan, Indonesia, dan India untuk mengamati pengujian vaksin polio dan membawa kembali bukti bahwa vaksin polio tidak terkontaminasi dengan HIV.

Dalam pembelaan diri mengenai aksi boikot-nya selama 11 bulan tersebut, gubernur negara bagian Kano, Ibrahim Shekarau, menegaskan kembali bahwa keputusan mereka untuk memboikot dikarenakan hasil tes yang tidak memuaskan oleh tim pemerintah federal Nigeria. Puas dengan hasil uji kualitas dan proses produksi vaksin polio dari negara yang dikunjungi, tim dari negara bagian Kano kembali dengan membawa hasil persetujuan dengan Bio Farma, perusahaan vaksin Indonesia, yang kemudian direkomendasikan oleh mereka menjadi pemasok baru vaksin polio bagi negara-negara bagian di Nigeria yang berpenduduk mayoritas muslim. Indonesia adalah negara muslim yang dipercaya oleh para pemimpin muslim Nigeria untuk menguji vaksin polio.

Dua bulan setelah negara bagian Kano kembali melaksanakan program imunisasi polio, sekitar 150 ulama muslim dan pemimpin tradisional dari Chad, Kamerun, Niger, Togo, Benin, dan Burkina Faso bertemu di Kano pada tanggal 22 September 2004 untuk membahas jalan ke depan sehubungan dengan imunisasi polio, mungkin sekalian mau jalan-jalan ke Bandung melihat Bio Parma, memborong peuyeum, dan telepisi (bahasa Sunda untuk televisi).

Bila anda menginginkan membaca sumber tulisan di atas tersebut, mengenai kasus Nigeria yang lebih lengkap dan obyektif, anda dapat mencermati thesis Jegede AS (2007) ‘What Led to the Nigerian Boycott of the Polio Vaccination Campaign?’ PLoS Med 4(3): e73. dan Polio Vaccines – Difficult to Swallow. The Story of a Controversy in Northern Nigeria, tulisan Maryam Yahya yang dipublikasikan dalam IDS Working Paper 261 oleh Institute of Development Studies pada bulan Maret 2006.

Iklan sebentar ya : Teori Konspirasi

“Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut”

Tanpa data/bukti pendukung, kalimat di atas memang merupakan salah satu bentuk teori konspiratif. Teori konspirasi ‘kayak gituan’ lebih sering berawal dari asumsi (mungkin dgn background keyakinan, kepercayaan, pengalaman, trauma/sentimen yang sudah sangaat mendalam hingga diam-diam menjadi waham), yang kalau kreatornya sempat, ada waktu buat googling, ngupil, nyari-nyari di situs anti vaksin Amerika, atau menyambangi blog tetangga untuk dicopy paste, kemudian menambahkan bukti-bukti yang mendukung (ya jelas lah, masa bukti yang menentang ikut dipampang, mana laku teorinya). Ya, Indonesia masih banyak pengangguran gitu, lumrah kalau bermunculan profesi desperate sebagai blogger/fesbuker/kompasioner konspiratif plus pengobat alternatif, mungkin mereka merasa lebih gampang eksis & terkenal lewat kanal itu daripada mati-matian ngantri Indonesian Idol atau membakar diri di depan gedung DPR (mati beneran kalau yang ini).

Tidak ada masalah dengan asumsi, siapa saja boleh berasumsi. Berasumsi sejauh apapun, hingga menuduh vaksin merupakan produk alien dari Mars juga tidak masalah (setidaknya tidak masalah bagi saya, entah bagi mahluk Mars). Maka, marilah kita terima teori konspiratif pada paragraf di atas dengan senang hati & penuh tawa, tidak perlu capek diperdebatkan. Biarkanlah si pencetus teori tersebut melengkapinya dengan bukti, biar lebih lucu lagi.

7. Bart Classen dan Diabetes tipe I (IDDM)

“Bart Classen, seorang dokter dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahwa tingkat penyakit diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru, setelah vaksin hepatitis B diberikan secara massal di kalangan anak-anak”

John Barthelow Classen, MD, MBA, menerima MD dari University of Maryland pada 1988 dan gelar MBA dari Columbia University pada tahun 1992. Dr Classen dipekerjakan di NIH di Laboratorium Imunologi, NIAID, antara 1988 dan 1991 sebelum ditinggalkannya untuk mendirikan ‘Immunotherapies Classen’ (sebuah institusi GeJe – ga jelas yang katanya menyediakan suatu sistem untuk keamanan vaksin?) pada tahun 1991. Pernyataan Classen di atas tersebut tercantum dalam karya nomor 2 dari 5 penelitian kontroversialnya tentang relasi antara imunisasi dan diabetes tipe I:

Classen JB. The timing of immunization affects the development of diabetes in rodents. Autoimmunity 1996;24:137-145
Classen DC, Classen JB. The timing of pediatric immunization and the risk of insulin-dependent diabetes mellitus. Infect Dis Clin Pract 1997;6:449-454
Classen JB, Classen DC. Immunization in the first month of life may explain decline in incidence of IDDM in the Netherlands. Autoimmunity 1999;31:43-45
Classen JB, Classen DC. Clustering of cases of insulin dependent diabetes (IDDM) occurring three years after hemophilus influenza B (HiB) immunization support causal relationship between immunization and IDDM. Autoimmunity 2002;35:247-253
Classen JB, Classen DC. Clustering of cases of type 1 diabetes mellitus occurring 2-4 years after vaccination is consistent with clustering after infections and progression to type 1 diabetes mellitus in autoantibody positive individuals. J Pediatr Endocrinol Metab 2003;16:495-508

Classen menyatakan bahwa jika vaksinasi pertama pada anak dilakukan setelah usia 2 bulan, ada peningkatan risiko diabetes tipe I. Penelitian laboratorium Classen pada hewan juga menemukan bahwa vaksin tertentu, jika diberikan saat lahir, sebenarnya mengurangi risiko diabetes. Penelitian ini didasarkan pada percobaan menggunakan vaksin anthrax, yang sangat jarang digunakan pada anak-anak atau orang dewasa. Classen juga membandingkan angka kejadian diabetes tipe I dengan jadwal vaksinasi di berbagai negara, dan menafsirkan hasilnya bahwa vaksinasi menyebabkan peningkatan risiko diabetes. Pernyataan ini telah dikritik karena perbandingan antar negaranya tersebut mengikutkan vaksin yang tidak lagi digunakan atau jarang digunakan di negara tersebut, seperti smallpox (variola; cacar) dan vaksin tuberkulosis (BCG). Penelitian ini juga tidak mempertimbangkan banyak alasan selain vaksinasi yang dapat mempengaruhi tingkat diabetes tipe I di berbagai negara. Kemudian, pada tahun 2002, Dr Classen menyatakan bahwa vaksinasi anak-anak Finlandia dengan vaksin Hib menyebabkan kasus klaster diabetes 3 tahun kemudian, dan bahwa eksperimennya pada tikus di atas mengkonfirmasi hubungan ini. Silakan unduh pernyataan lengkap paragraf ini di http://www.ncirs.edu.au/immunisation/fact-sheets/diabetes-and-vaccines-fact-sheet.pdf dari http://www.ncirs.edu.au/)

Dalam dunia riset medis, satu hasil penelitian tidak dapat dianut begitu saja sebagai acuan sebagai sumber penentu keputusan, melainkan harus berdasarkan verifikasi dan kesimpulan akhir dari banyak hasil penelitian. Penelitian kontroversial Classen memicu peneliti-peneliti di berbagai belahan dunia untuk memverifikasi temuan Classen ini dengan penelitian-penelitian mereka kemudian, dengan data yang lebih lengkap, lebih valid dan lebih komprehensif (beginilah cara para peneliti terpelajar ‘beradu argumen secara jantan’). Berikut beberapa penelitian tentang hubungan imunisasi antara diabetes tipe I, dan penyakit alergi & autoimmun lainnya yang menjawab pernyataan Classen:

Heijbel H, Chen RT, Dahlquist G. Cumulative incidence of childhood-onset IDDM is unaffected by pertussis immunization. Diabetes Care. 1997 Feb;20(2):173-5. (http://care.diabetesjournals.org/content/20/2/173.full.pdf+html)
–> Conclusion: The comparison of the cumulative incidence of IDDM, up to the age of 12 years, in birth cohorts with high and low exposure to pertussis vaccine does not support the hypothesis that pertussis could induce autoimmunity to the beta-cell that may lead to IDDM.

Nilsson L, Kjellman NI, Bjorksten B. A randomized controlled trial of the effect of pertussis vaccines on atopic disease. Arch Pediatr Adolesc Med 1998 Aug;152(8):734-8 (http://archpedi.ama-assn.org/cgi/reprint/152/8/734.pdf)
–> Conclusion: We found no support for a drastic increase in allergic manifestations after pertussis vaccination. There was a positive association between whooping cough and asthma by 2 1/2 years of age. There seems to be little reason to withhold pertussis vaccination from infants, irrespective of family history of allergy.

Karvonen M, Cepaitis Z, Tuomilehto J.Association between type 1 diabetes and Haemophilus influenzae type b vaccination: birth cohort study. BMJ 1999;318:1169 (http://www.bmj.com/content/318/7192/1169)
–> Conclusion: It is unlikely that H influenzae type b vaccination or its timing cause type 1 diabetes in children.

Hiltunen M, Lönnrot M, Hyöty H. Immunisation and Type 1 Diabetes Mellitus: Is There a Link? Drug Saf. 1999 Mar;20(3):207-12.
–> Conclusion: there is no clear evidence that any currently used vaccine can prevent or induce diabetes in humans

Graves PM, Barriga KJ, Norris JM, Hoffman MR, Yu L, Eisenbarth GS, Rewers M. Lack of association between early childhood immunizations and beta-cell autoimmunity. Diabetes Care. 1999 Oct;22(10):1694-7. (http://care.diabetesjournals.org/content/22/10/1694.full.pdf)
–> Conclusion: The results suggest that changing the early childhood immunization schedule would not affect the risk of developing beta-cell autoimmunity or type 1 diabetes.

Ryan EJ, Nilsson L, Kjellman N, Gothefors L, Mills KH. Booster immunization of children with an acellular pertussis vaccine enhances Th2 cytokine production and serum IgE responses against pertussis toxin but not against common allergens. Clin Exp Immunol. 2000 Aug;121(2):193-200. (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1905694/?tool=pubmed)
–> Conclusion: despite the enhancement of type-2 responses to B. pertussis antigens, booster vaccination with Acellular pertussis vaccines (Pa) does not appear to be a risk factor for allergy.

DeStefano F, Mullooly JP, Okoro CA, Chen RT, Marcy SM, Ward JI, Vadheim CM, Black SB, Shinefield HR, Davis RL, Bohlke K; Vaccine Safety Datalink Team. Childhood vaccinations, vaccination timing, and risk of type 1 diabetes mellitus. Pediatrics. 2001 Dec;108(6):E112.
–> Conclusion: In this large, population-based, case-control study, we did not find an increased risk of type 1 diabetes associated with any of the routinely recommended childhood vaccines

Black SB, Lewis E, Shinefield H, et al. Lack of association between receipt of conjugate Haemophilus influenzae type b vaccine (HbOC) in infancy and risk of type 1 (juvenile onset) diabetes: long term follow-up of the HbOC efficacy trial cohort. Pediatr Infect Dis J. 2002;21:568 –569
–> Conclusion: We found no evidence that vaccination with Hib conjugate vaccine in infancy is associated with risk of diabetes later in life.

..dan yang paling dahsyat tentu saja adalah
Anders Hviid, M.Sc., Michael Stellfeld, M.D., Jan Wohlfahrt, M.Sc., and Mads Melbye, M.D., Ph.D. Childhood Vaccination and Type 1 Diabetes. N Engl J Med 2004; 350:1398-1404 (http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa032665#t=article)
–> Conclusion: These results do not support a causal relation between childhood vaccination and type 1 diabetes.
[penelitian Andres Hviid dan rekan ini merupakan penelitian cohort terbesar yang memfollow-up 4.720.517 orang (!), dengan database yang luar biasa lengkap & komprehensif]

Penelitian-penelitian yang melawan hipotesis bahaya imunisasi oleh Classen ternyata banyak.. Silakan cari di PubMed (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/). Bila masih awam dengan Pubmed silakan cari di situs Institute for Vaccine Safety (www.vaccinesafety.edu), situs ini milik kalangan akademisi Johns Hopkins yang cukup obyektif dan mampu telusur. Kalau masih kurang, buka daftar link situs tersebut http://www.vaccinesafety.edu/links.htm, di situ disediakan link ke banyak situs resmi akademisi & praktisi medis legal yang lain (jelas tidak ada situs organisasi anti vaksin atau pengobatan alternatif semacam NVIC atau whale.to yang ikutan nampang di situ)

Bias Classen

Independensi Bart Classen sangat dipertanyakan. Anda dapat mengeceknya sendiri, meskipun Classen mengaku dalam posisi tidak menentang vaksinasi, tapi websitenya sendiri (vaccine.net) mencantumkan link untuk “more information on vaccine safety and your rights” hanya menuju situs kelompok anti-vaksinasi The National Vaccine Information Center (NVIC), tentu pembaca sudah pernah mendengar tentang organisasi anti-imunisasi ini (silakan lihat http://vaccines.net/newpage114.htm). Baru-baru ini Classen juga aktif terlibat dalam konferensi kelompok penentang imunisasi yang berjudul Vaccine Safety Conference yang diselenggarakan oleh NVIC pada 3-8 Januari 2011 di Jamaika (silakan lihat http://www.vaccinesafetyconference.com/foundations.html). Ada yang ikut ke sana? lihat profil pembicara-pembicara pada situs itu, ahli-ahli anti-imunisasi pada kumpul semua lho.. termasuk Andrew Wakefield; sayang kalau ngga ikut ;p

8. Akhir dari telaah tahap II

Maaf bila ternyata isinya kurang humor bagi anda, saya memang bukan Raditya Dika, tapi bagi saya, sumpah isinya ini lelucon. “Bahaya Imunisasi? telaah tahap II” ini sedikit lebih ‘berat’ dari artikel tahap 1 lalu. Dimaksudkan untuk menunjukkan berbagai variasi ‘data-data’ invalid yang sering digunakan oleh pegiat anti-vaksin di Amerika, yang kemudian dengan latah dicopy-paste oleh blogger/facebooker/kompasioner (juga penulis buku, semacam ibu Ummu Salamah) di Indonesia, tanpa pandang bulu (emang ada bulunya?), mulai dari yang mudah dibuktikan rekayasa keterlaluannya, hingga yang harus dilawan dengan mengadakan penelitian-penelitian. Juga menunjukkan bagaimana kami, praktisi medis, tidak semudah itu percaya pada sajian data. Menutup telaah tahap ke -2 ini, mari kita lihat dulu paparan hasil penelitian berikut ini:

Berdasarkan penelitian Prof. Dr. dr. Arian, PhD, peneliti ternama di Universitas Gaul Mahal, yang dipublikasikan di Indonesian Journal of Extremely Handsome Practitioners pada tahun 2011, sebanyak 76,3% dari 7632 responden wanita berusia 11-35 tahun di kecamatan Godeang mengakui bahwa dokter Julian Sunan adalah seorang dokter yang tampan

Spesies manusia modern dengan IQ normal yang membaca paragraf pasti langsung percaya bahwa penelitian tersebut adalah rekayasa. Kesan pertama membaca: penelitiannya norak, ngga mungkin banget lah ada penelitian kaya gitu. Tapi apakah yang norak selalu merupakan rekayasa? dan apakah yang rekayasa selalu norak? tentu saja tidak, norak dan rekayasa tidak selalu berkorelasi positif.
Bagaimana bila Prof. Arian ternyata memang merupakan ahli di bidang penelitian kegantengan di UGM? bagaimana bila Indonesian Journal of Extremely Handsome Practitioners memang ada dan diakui secara internasional? bagaimana bila tahun 2011 memang ada penelitian tersebut, yang benar dan sesuai standar di Godeang? bagaimana bila data dan analisis hasil data penelitian memang dipaparkan secara jujur dan benar?
Yang saya tulis pada paragraf di atas jelas lelucon norak. Namun, untuk mengatakan suatu paparan hasil penelitian valid dan reliabel, rekayasa atau, tentu saja tidak hanya melihat dari tingkat kenorakannya. Apalagi untuk menjadikannya dasar penentuan keputusan. Ada prosedur review sistematis (http://en.wikipedia.org/wiki/Systematic_review) tersendiri yang selalu diikuti oleh para akademisi, termasuk kami, para dokter.

Ya, kami juga selalu melakukan prosedur telaah tersebut, tidak hanya melihat suatu paparan hasil penelitian yang cool, keren dan tampak meyakinkan, kemudian kami ikuti sebagai pedoman. Setidaknya itu yang diajarkan pada kami dokter-dokter lulusan universitas negeri yang ndeso di Jogja (jaman saya kuliah dulu sih masih ndeso, tapi sekarang sudah sangat gaul dan mahal). Profesi kedokteran saat ini berlandaskan asas Evidence Based Medicine, harus ada bukti, penelitian, metaanalisis (http://en.wikipedia.org/wiki/Meta-analysis), review sistematis dan diikuti kemudian keputusan kolegium profesi yang harus benar-benar valid dan reliabel untuk melakukan suatu prosedur medis, bukan berdasar sembarang hasil penelitian tampak keren yang dipajang di situs internet. Apalagi mendasarkan diri pada sekedar hasil testimoni alias curhatan, baik korban maupun pelaku, baik pasien ataupun profesor.

Prosedur tersebut memposisikan dokter, perawat, bidan untuk wajib bersikap netral, tidak berpihak kepada yang kontra, maupun yang pro terhadap imunisasi, untuk menghindari bias analisis & pengambilan keputusan. Banyak vaksin yang telah diciptakan di dunia, banyak penelitian yang mendalaminya, dan sejauh yang sudah saya pelajari, hasilnya tidak semua vaksin tersebut aman dan efektif, namun juga tidak semua vaksin berbahaya dan tidak efektif. Anda tentu dapat memakai logika, bagaimana mungkin seorang dokter bisa dikatakan obyektif untuk menilai suatu vaksin aman atau berbahaya, efektif atau tidak, bila sudah memposisikan diri dalam komunitas anti imunisasi?

Silakan diverifikasi data penelitian di atas mengenai ketampanan saya, validkah? akan saya rangsang lagi hasrat muntah anda pada telaah tahap ke III, tentu saja bila mood menulis saya tiba-tiba muncul kembali… ;)

Best regards

Julian Sunan
(disusun sambil nonton Indonesian Idol 2012; ayo Regina!)

PS: terimakasih jeng I.K.M untuk tagging foto Kelly Clarkson fitness-nya!

sumber : https://www.facebook.com/notes/julian-sunan/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-ke-2/10150828272932795

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s